I. MENULIS KITAB, AMALAN UTAMA
Al-Hafizh Ibnu Jama’ah al-Kinani asy-Syafi’i mengatakan: “Termasuk adab seorang alim adalah menyibukkan diri dengan menulis bila telah memiliki keahlian, karena menulis dapat memperluas wacana ilmiyahnya tentang berbagai bidang ilmu dan menelaah kitab-kitab ulama.
Dan hendaknya bagi seorang yang ingin mengarang karya tulis untuk memilih suatu pembahasan yang manfaatnya besar dan sangat di butuhkan oleh manusia, lebih baik lagi bila pembahasan tersebut belum pernah dibahas sebelumnya, dengan memilih kata-kata yang jelas, tidak terlalu panjang sehingga membosankan dan tidak juga terlalu ringkas sehingga”.[1]
Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:
Al-Hafizh Ibnu Jama’ah al-Kinani asy-Syafi’i mengatakan: “Termasuk adab seorang alim adalah menyibukkan diri dengan menulis bila telah memiliki keahlian, karena menulis dapat memperluas wacana ilmiyahnya tentang berbagai bidang ilmu dan menelaah kitab-kitab ulama.
Dan hendaknya bagi seorang yang ingin mengarang karya tulis untuk memilih suatu pembahasan yang manfaatnya besar dan sangat di butuhkan oleh manusia, lebih baik lagi bila pembahasan tersebut belum pernah dibahas sebelumnya, dengan memilih kata-kata yang jelas, tidak terlalu panjang sehingga membosankan dan tidak juga terlalu ringkas sehingga”.[1]
Alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:
كَتَبْتُ وَقَدْ أَيْقَنْتُ يَوْمَ كِتَابَتِيْ بِأَنَّ يَدِيْ تَفْنَى وَيَبْقَى كِتَابُهُ
وَ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ لاَبُدَّ سَائِلِيْ فَيَا لَيْتَ شِعْرِيْ مَا يَكُوْنُ جَوَابُهُ
Ketika saya menulis saya yakinBahwa tanganku akan binasa dan tulisanku kekalDan saya tahu bahwa Allah pasti menanyakankuAduhai, apa nanti jawabannya?[2]


